blog-img
17/05/2020

Seminar Online Internasional Peran Mahasiswa TI Dalam Wabah Dunia Covid-19

Administrator | Kemahasiswaan

stmik-yadika.ac.id – Pasuruan.   Sesuai dengan jadwal yang ditentukan sebelumnya, STMIK Yadika Bangil  telah menggelar Seminar Online Internasional untuk pertama kalinya,pada Jum’at malam (15/05/2020) mulai jam 19.30 wib yang berdurasi sekitar 2 jam, dan diikuti oleh 98 peserta. Apa saja hasilnya, berikut ulasannya.

 

Tema seminar ini, “Peran Mahasiswa TI dalam wabah dunia Covid-19", dengan Pembicara: dua mahasiswa bersaudara asal Indonesia yang kuliah di Tiongkok. Pembicara pertama, Nikkolai Ali Akbar Velayati, atau biasa dipanggil Nikko Akbar, merupakan mahasiswa MBBS (Kedokteran) Chongqing Medical University Tiongkok sekaligus Ketua Satgas Covid-19 PPI Dunia Kawasan Asia-Oceania. Nikko Akbar mengupas dari sisi kesehatan.

 

Pembicara kedua, yakni Nikkolai Ulyanov Ali Reza Muntazhar Muthahhari, atau biasa dipanggil Nikkolai Reza merupakan mahasiswa Bachelor of Software Engineering, Sun Yat-Sen University, Guangzhou, Tiongkok. Nikkolai mengupas dari sisi sebagai mahasiswa TI.

 

Seminar online ini dipandu oleh Hari Moerti, dan sambutan pembukaan disampaikan oleh Ketua  STMIK Yadika Bangil, Erri Wahyu Puspitarini dalam Bahasa Inggris. Dalam sambutannya, Erri mengatakan, “Ini adalah seminar online untuk pertama kalinya bagi kampus kita STMIK Yadika Bangil, terima kasih kepada dua mahasiswa yang kuliah di Tiongkok sebagai narasumber, terima kasih khusus kepada Waket 3 yang mengorganisir acara, dan seluruh peserta yang targetnya 100 mahasiswa. Mari kita belajar dari covid-19”, kata Erri, perempuan yang cakap berbahasa Inggris itu.

 

Erri lebih jauh memberikan arahan, “Belajar melalui daring tidak hanya bagi mahasiswa Indonesia, tapi mahasiswa Tiongkok dan mahasiswa seluruh dunia karena Pandemi covid-19 ini, semua mengalami yang sama.”  tutur Erri.

 

Setelah sambutan, dilanjutkan ke pemandu acara, Hari menyampaikan, “meski ini seminar Internasional, cukup sambutan pembukaan saja yang menggunakan Bahasa Inggris, selebihnya menggunakan Bahasa Indonesia, termasuk nanti narasumber kita minta menggunakan Bahasa Indonesia, tidak perlu Bahasa Inggris, apalagi Bahasa Tiongkok”, celetuknya.

 

Paparan pertama disampaikan oleh Nikko Akbar, dengan menyampaikan , “Prinsipnya kita sharing-sharing saja sekarang, cerita covid-19 ini dari awal ketika di Tiongkok seperti apa, lalu apa saja yang dilakukan pemerintah Tiongkok untuk mengatasi wabah ini”, kata Nikko.

 

Nikko melanjutkan, “Penyakit ini pertama kali ditemukan pada 31 Desember 2019, pada saat itu Pemerintah Tiongkok melaporkan ke WHO, kalau ada kasus nemonia yang tidak biasa di Wuhan, dengan gejala utamanya batuk dan sesak nafas. Posisi pertama kali ditemukan di salah satu pedagang ikan. Kemudian pada 7 Januari 2020 ditemukan munculnya tren virus baru, dan pada 11 Januari 2020 Tiongkok melaporkan kasus kematian pertama. Sekitar 9 hari setelah itu ditemukan di beberapa daerah lain di Tiongkok, kenapa bisa menyebar secepat itu, karena saat itu imlek, banyak masyarakat Wuhan  yang pergi ke daerah lainnya” beber Nikko.

 

Nikko melanjutkan, “Dan sekarang kondisi Tiongkok mulai pulih, tidak lagi ditemukan kasus baru. Itu karena Tiongkok saat itu segera melakukan karantina total, semua akses ditutup, masyarakatnya juga patuh. Termasuk mahasiswa asing yang sedang pulang ke negara asalnya, juga dilarang kembali untuk sementara ini setidaknya satu semester, termasuk saya”.

 

Sementara itu, paparan berikutnya disampaikan oleh Nikkolai, “Sebelum kuliah di Guangzhou Tiongkok jurusan Teknik Informatika, saya pernah kuliah singkat di Malaysia jurusan game development, ujar Nikkolai diawal perkenalannya.

 

Di Tiongkok, telah banyak aplikasi lokal yang dibuat untuk menunjang WFH bagi perusahaan dan pekerjanya”, tutur Nikkolai.

 

Sebagai mahasiswa TI, apa saja yang bisa kita lakukan untuk turut serta menanggulangi Covid-19, menurut Nikkolai, “Setidaknya ada dua hal, langkah aktiv dan langkah pasif”.

 

Langkah aktivnya, kita bisa membantu langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah, misalnya menyebarkan informasi positif kepada lingkungan kita, supaya tidak terjadi kepanikan massa.

 

Sedangkan, langkah pasifnya, kita berdiam diri dirumah, kecuali ada kepentingan yang sangat mendesak. Kita juga bisa menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dengan cara yang berbudaya, karena kita sebagai mahasiswa IT.

 

Selain itu, kita sebagai mahasiswa IT, juga bisa mengembangkan diri misalnya membuat game-game sederhana, karena itu bisa membuat hiburan kepada masyarakat. Ada penelitian yang menyatakan, terjadi peningkatan 10-15 % penggunaan game di Indonesia, kalau secara global peningkatannya sekitar 70%, artinya ini memberikan peluang untuk masuk di industri game.

 

Peluang yang memungkinkan berikutnya, menjadi konsultan IT untuk UMKM, agar bisa memasarkan produknya melalui media sosial atau marketplace.

 

Tentang pertanyaan, apakah zoom meeting aman, Nikkolai menjawab bahwa aplikasi zoom ini seperti VPN, menyediakan banyak jalan dan banyak server.

 

Diakhir acara, moderator menanyakan kepada keduanya, “apakah setelah lulus kuliah akan berkarir di Indonesia atau di Tiongkok, keduanya menjawab  akan berkarir dulu di Tiongkok, setelah dirasa cukup, akan kembali ke tanah air”, pungkas keduanya.[#HM]

Populer