Berita

image

Nosa Shandy, Mahasiswa STMIK Yadika Bangil temukan bug di Google dan mendapatkan hadiah Rp 112 juta

Minggu, 04 November 2018 Nasional 43

Rencanakan untuk dana haji orang tua

Istilah Hacker memang imagenya dipandang negatif dalam dunia teknologi. Padahal Hacker ini adalah menemukan kelemahan suatu website atau aplikasi agar bisa diperbaiki. Salah satunya adalah Nosa Shandy, Mahasiswa STMIK Yadika Bangil berhasil menemukan bug atau cela sistem di Google dan justru dihadiahi $ 7500 atau setara Rp 112 juta.

Hacker memang cukup banyak dipakai di dunia perfilman. Mereka biasanya diidentik dengan peretas sistem dan merusak. Padahal kegiatan itu dalam dunia Informasi Teknologi (IT) dikenal dengan Cracker. Sedangkan Hacker justru bersifat membangun dengan menemukan cacat sistem dan melapor ke pengembang agar segera diperbaiki.

Di Pasuruan, pecinta IT juga banyak yang menggemari mencari cela dari sistem. Istilahnya adalah Bug Bounty atau pencari kelemahan sistem dari website, aplikasi atau sistem di dunia IT. Salah satunya adalah Nosa Shandy, mahasiswa STMIK Yadika Bangil ini yang namanya menjadi populer di dunia maya dalam beberapa hari terakhir.

Nosa memang bukan nama baru bagi penggemar IT di Pasuruan. Pria yang baru berusia 18 tahun ini memang sudah menjadu bug bounty sejak duduk di kelas 11 SMAN 2 Pasuruan. “Kalau kenal dengan dunia IT sejak kecil sudah suka main games. Mainannya dai warnet buat main Point Blank dan Last Saga,” jelasnya.

Namun tak hanya bermain games. Nosa kecil tertarik belajar otodidak waktu itu dengan membuat-membuat aplikasi yang menganggu orang lain. Sifat jahilnya ini awalnya agar orang yang memakai komputer merasa komputernya rusak atau hang. Padahal yang dikirim adalah aplikasi alert saja.

Dikatakan sejak SMP sampai SMA dirinya banyak belajar membuat aplikasi untuk lucu-lucuan. “Karena waktu itu memang masih kecil dan suka jahil. Jadi saya suka buat aplikasi yang membuat orang gerah, seperti Keylogger atau Physing. Tapi dari situ saya akhirnya serius belajar menjadi bug bounty,” terangnya.

Aplikasi pertama yang dicoba dicari celanya adalah aplikasi nilai sekolahnya. Dari ceritanya, waktu itu sekolah membuat website yang bisa secara online menampilkan nilai siswa. Merasa tertantang, Nosapun mencoba mencari cela website sekolahnya tersebut.

“Dan ternyata saya bisa masuk sistemnya, bahkan menjadi admin termasuk bisa melihat dan mengedit nilai teman. Waktu itu Nosapun menghubungi developernya dan melaporkan. Akhirnya bersepakat memberikan hadiah Rp 500 ribu kala itu untuk melaporkan bug yang ditemukan oleh Nosa.

Sayangnya dengan informasi tersebut, Nosa jadi dicap perusak. Bahkan imagenya jadi jelek di sekolahnya lantaran mengira Nosa adalah hacker dan beberapa kali harus berususan jika ada trouble di website aplikasi nilai sekolah.

“Padahal bukan saya yang merusak hanya crash sistem saja. Tapi tetap saya yang kena tuduh,” ungkapnya.

Setelah lulus SMA, Nosapun melanjutkan berkuliah di STMIK Yadika Bangil jurusan Teknik Informatika. Selain itu dirinya juga aktif di Komunitas Blackhat Pasuruan sejak tahun 2015 yang banyak tertarik dengan dunia security sistem.

Anak pertama dari 3 bersaudara mengaku bahwa akhirnya tertantang mencari celah atau bug di website sampai aplikasi lokal dan internasional. Aplikasi lokal yang berhasil ditemukan bugnya adalah aplikasi e-commerse mulai dari tokopedia, mataharimall sampai traveloka. “Untuk aplikasi lokal dilihat tingkat kesulita bug dan benefitnya. Kalau menemukan dan melaporkan dihargai Rp 2-3 juta per bug nya,” terangnya.

Sedangkan yang luar negeri lebih mahal bisa Rp 7,5 juta. Saat ini kruang lebih sudah ada 15 aplikasi lokal dan luar yang sudah ditemukan bug oleh Nosa. Dan terakhir justru google website raksasa terbesar di dunia. Nosa mengaku memang tertantang dari awal ingin mencari celah kelemahan dari google.

“Jadi start mulai maret lalu, saya mencari kelemahan sistem dari click Hijacking. Awalnya sudah menemukan di google bisnis. Dimana saya bisa merubah data jabatan di perusahaan yang masuk list google bisnis,” terangnya.

Bug itu dilaporkan Maret lalu dan dilaporkan ke tim it support google. Sayangnya waktu awal balasan dari google saat itu bug dinyatakan tidak berfungsi jika memakai browser yang terbaru. Nosapun sempat meninggalkan, namun Agustus kemarin mencoba menggali lagi bug yang sebelumnya termasuk membreak security dari google sendiri.

“Dan ternyata dari bug tadi justru bisa meretas security google yang mencover bug tersebut. Dan akhirnya saya laporkan lagi. Tapi awalnya balasan google masih kurang mengerti laporan saya entah karena faktor bahasa. Akhirnya saya kirim lagi berserta videonya,” terangnya.

Dan pada 26 September kemarin, Nosapun mendapatkan balasan lagi dari Google dengan Nama Email “Nice Catch” yang artinya tangkapan bagus. Dari karena pelaporan bug tersebut. Googlepun menghadiahi Nosa dengan dana sejumlah 7500 dollar atau setara dengan Rp 112 juta.

Bagi Nosa hal tersebut pencapaian yang cukup tinggi baginya. Namun tetap tak menyerah dan tetap ingin menjadi bug bounty. Mengenai dananya, Nosa mengatakan awalnya berencana ingin mengumrohkan orang tuanya agar bisa segera langsung berangkat. “Tapi orang tua tidak mau katanya buat haji saja. Ya akhirnya saya akan gunakan untuk dana haji meskipun berangkat masih lama karena mengantri,” pungkasnya. (eka)

 

Sumber : Erri Kartika [Jawa Pos Radar Bromo 30/09/2018]

Leave a Comment

Your email address will not be published.