Berita

image

Mahasiswi STMIK Yadika Bangil Ini Ciptakan Pendeteksi Ketinggian Kendaraan

Jumat, 15 Maret 2019 Akademik 217

Banyaknya truk yang menabrak viaduk di Gempol, menginspirasi Himayatul Millah, mahasiswa STMIK (Sekolah Tinggi Manajemen, Informatika dan Komputer) Yadika Bangil membuat alat pendeteksi ketinggian. Tujuannya, agar tidak ada lagi truk yang menabrak viaduk lantaran terlalu tinggi.

ERRI KARTIKA, Bangil

Kecelakaan tunggal yang terjadi di Jalan Raya Gempol tepatnya di Viaduk Gempol sudah sering terjadi. Paling banyak lantaran kendaraan khususnya truk yang terlalu tinggi tetap melintas di jalur tersebut. Setelah menabrak atau tersangkut viaduk, tentunya berimbas pada lalu lintas yang terhenti atau macet.

Sebagai mahasiswa perantauan, Himayatul Millah, 21, warga asli Situbondo yang belajar di STMIK Yadika Bangil ini sudah seringkali terkena macet di jalur tersebut setelah ada truk yang tersangkut di viaduk. “Ide pembuatan penelitian ini saat saya terjebak macet, akhirnya mendapatkan ide untuk membuat skripsi tentang pengolahan citra terkait tinggi kendaraan,” terangnya.

Maya, panggilannya mengatakan, memang suka dengan dunia komputer sejak kecil. Dari game dan berkenalan dengan TIK sejak SMP, di SMK ia memilih jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ).

“Karena saya pengen tetap serius di komputer, tapi aturan pondok cukup ketat karena no gadget dan laptop saat di pondok, sehingga saya berpikir bakal tidak maksimal kalau kuliah di sana,” terangnya.

Akhirnya, Maya memilih merantau dan sekolah di STMIK Yadika Bangil. Tak hanya aktif di kegiatan mahasiswa bidang komputer, saat kuliah, Maya juga aktif di UKM jurnalistik, paduan suara, sampai menjadi ketua tanggap bencana.

Sebagai mahasiswa TI, Maya mengaku suka dengan website dan pemrograman. Namun, saat semester 5, ada mata kuliah pengolahan citra. Dimana dari mata kuliah inilah yang membuatnya jadi ide judul skripsi. Pengolahan citra ini adalah program komputer yang secara visual bisa mendeteksi atau menangkap visual yang dibutuhkan.

“Misal seperti menghitung parkiran, termasuk yang sudah digunakan di Surabaya yaitu intelligent transport system. Dimana dari kamera bisa menangkap pengendara yang melanggar lalu lintas,” terangnya.

Sedangkan, Maya yang tertarik dengan pangolahan citra ini, menangkap permasalahan di Kabupaten Pasuruan. Salah satunya adalah terkait seringnya kecelakaan mobil di viaduk Gempol.

Sejatinya ada rambu yang sudah diberikan di ujung jalan terkait batas tinggi kendaraan yang melintas. Namun, sering kali sopir tidak memperhatikan. Termasuk bagi sopir yang belum pernah melintas. Dimana batas kendaraannya hanya 2,5 meter.

Maya mengatakan, ide penelitiannya ini lantaran sering terkena macet saat melintas di sana akibat ada truk yang nyangkut. “Sehingga, dari ide tersebut saya ajukan penelitian skripsi saya yaitu pengembangan sistem deteksi over height vehicle berdasarkan geometri kamera,” terangnya.

Untuk menangkap citra, Maya menggunakan webcam yang ditaruh di atas tiang kayu. Dikatakan butuh observasi ketinggian agar mendapatkan data yang akurat. Di coba dari ketinggian 2 meter, 2,5 meter, dan 3 meter. Termasuk jarak kamera dari viaduk juga dicari yang paling akurat.

“Setelah beberapa kali observasi, ketinggian kamera yang paling akurat di 2,5 meter dan jarak dari viaduk sejauh 145 meter dan menghadap ke jembatan. Sehingga, bisa membidik kendaraan yang akan melintas di sana,” terangnya.

Untuk viaduk sendiri, tingginya 3 meter. Namun, ada pembatas besi yang tingginya 2,5 meter. Untuk mendeteksi ketinggian, maka webcam akan menangkap video secara realtime. Di mana hasil pencitraan tersebut akan terhubung dengan program vb.net. Program itu akan mendeteksi jika ada kendaraan yang melebihi 2,5 meter.

“Nanti akan terdata menjadi warna merah di program. Karena ini masih berupa penelitian awal, nantinya hasil warningbisa diaplikasikan menjadi warning suara atau tanda lampu. Tujuannya, agar sopir tahu bahwa mereka dilarang melintasi viaduk,” terangnya.

Penelitian ini membutuhkan waktu 6 bulan sampai akhirnya sidang skripsi dan mendapatkan nilai A. Terkait penelitian ini memang masih mandiri. Sehingga, alat dan bahan seperti tiang, webcam, observasi lapangan sifatnya masih portabel.

“Saat observasi, tiang kayu tempat pasang webcam saya pasang di sepeda motor sehingga lebih mobile. Tapi, kalau dipasang di tempat yang lebih permanen juga bisa, malah lebih bagus,” terangnya.

Penelitian ini diharapkan bisa diaplikasikan oleh Dinas Perhubungan ataupun kepolisian. Sehingga, meminimalisasi kecelakaan di lokasi tersebut. “Termasuk agar tidak terjadi lagi kecelakaan akibat ketinggian truk. Tak hanya di viaduk Gempol, tapi juga di tempat lain,” katanya. (rf)

 

Sumber : Radar Bromo 15 Maret 2019

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.