Berita

image

Melihat sistem pembuatan aplikasi Pilkades dengan Computer Vision

Jumat, 22 November 2019 Akademik 218

Tinggal tunjukkan jari, pilihan langsung tersimpan di sistem voting

Mahasiswa STMIK Yadika, Bangil membuat sistem dan aplikasi agar pemilihan bisa lebih efisien dengan menggunakan teknologi. Dengan menunjukkan jari, nantinya layar di bilik suara akan merekam pilihan pemilih. Sistem ini memang cukup futuristik, tanpa kertas dan nantinya semua voting akan langsung terhitung tanpa harus ada perhitungan suara.

Erri Kartika, Bangil, Radar Bromo

Kondisi ruang kelas di STMIK Yadika pada Sabtu (16/11) lalu sedikit berbeda. Terlihat ada bilik suara, dan layar proyektor di depan kelas. Dalam layar tersebut, terlihat ada aplikasi VB.net, dengan tampilan layar video, terlihat jari-jari tangan yang terekam menunjukkan pilihan suara di bilik suara di yang ada di tengah kelas.

Pilihan pertama, tampak pemilih menunjukkan tanda telunjuk, pilihan kedua dengan posisi dua jari, dan pilihan-pilihan lagi dengan 5 jari. Semua pilihan memang sengaja ditampilkan di layar besar, hal ini untuk melihat kemampuan aplikasi ini membaca tanda jari yang ditunjukkan pemilih dari dalam bilik suara.

“Hari ini memang uji coba aplikasi, jadi kelas dibuat layaknya Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dalam bilik suara ada kamera video dari handphone yang merekam jari tangan yang dipilih oleh teman-teman,” terang Mukhammad Imam Nur Hidayat, 22, warga Mojoparon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Mahasiswa semester 7, jurusan Teknik Informatika, STMIK Yadika Bangil mengatakan Sabtu lalu memang tahap uji coba protoptype aplikasi buatannya yaitu “Smart System pemungutan suara dengan Computer Vision untuk Pilkades”. Jadi dengan menggunakann teknologi perekaman visual, mendata pilihan dari jari telunjuk kemudian tersimpan di aplikasi dan disimpan sebagai voting.

Dalam uji coba sabtu lalu, semua yang digunakan di TPS menggunakan teknologi digital. Termasuk mahasiswa sebagai pemilih, juga harus memiliki QR Code sebagai tanda telah diundang. Setelah dibaca oleh mesin pembaca QR Code, nantinya panitia dalam layar sudah memiliki data pribadi dan foto untuk mecocokan profil pemilih.

“jadi tinggal croscek di layar, kalau foto dan data sama, berarti pemilih tidak diwakilkan orang lain,” terangnya.

Setelah itu, sama seperti antrian di TPS biasanya, pemilih tinggal menunggu antrian ke bilik suara. Dalam bilik suara ini yang berbeda. Karena pemilih tidak lagi mendapatkan surat suara. Tapi tinggal menunjukkan pilihan dengan jari dan terekam di layar video.

Dayat mengatakan, pemilihan dengan jari ini memang menggunakan pendataan visual dari komputer. “Jadi kita buat paperless, pemilih tinggal menunjukkan kode jari, misal 1 dengan telunjuk, dua dengan dua jari dan sampai 5 untuk kelima jari,” terangnya.

Pilihan dengan simbol jadi ini dinilai mudah dipahami oleh lapisan masyarakat. Dalam uji coba kemarin, aplikasi berhasil membaca pilihan pemilih. Sehingga langsung terekam dalam server lokal. Setelah semua mahasiswa memilih dan dinyatakan selesai, sistem langsung membaca semua voting dan ditunjukkan hasilnya.

Dayat mengatakan program “Smart System pemungutan suara dengan Computer Vision untuk Pilkades” ini idenya sudah ada sejak setahun lalu. “Setahun lalu sudah mengajukan ke dosen pembimbing yaitu Yusron Rizal meskipun saya masih semester 5, akhirnya di semester 7 ini saya mulai aplikasikan untuk Skripsi dan kemarin diuji cobakan di kelas,” terangnya.

Karena masih prototype memang butuh banyak pengembangan. Aplikasi yang dibuat bersama temannya Ahmad Rizal Zulmi ini dikatakan butuh waktu 1 bulan untuk membuat sistem dengan program VB.net.

Dalam program tersebut, sistem membaca titik jari dan lengkungan. Sehingga setelah terbaca, maka akan langsung tersimpan sebagai voting suara. Dikatakan pemilihan untuk Pilkades sendiri lantaran pilkades adalah pemilihan yang sangat dasar dalam pemerintahan.

Kendati begitu, memang pemilihan dengan teknologi masih sulit diaplikasikan di Indonesia. “Namun tidak memungkinankan juga 10 tahun lagi atau kedepan, voting dengan teknologi ini bisa dilakukan. Dimana masyarakat dan panitia juga sudah siap,” terangnya.

Dalam sistem voting dengan computer vision ini diyakini lebih cepat, lantaran selain paperless, hasil juga bisa dilihat setelah semua voting ditutup. Untuk mencegah hacker, Sistem ini dilakukan lokal sehingga tidak online. Sehingga tidak memungkinkan ada yang membajak.

“Kedepan kita harap sistem pemilihan bisa dengan teknologi, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk perhitungan suara. Meskipun memang masih butuh banyak pengembangan dalam sistem voting dengan jari ini,” terangnya.

Harapannya Smart System pemungutan suara dengan Computer Vision untuk Pilkades ini, kedepan juga bisa dimanfaatkan di Kabupaten Pasuruan bahkan mungkin di tempat lain atau se-Indonesia. “Paling enggak kita harap untuk pemilihan senat di kampus STIMIK Yadika tahun depan, pemilihan sudah bisa dengan teknologi ini,” pungkasnya. (eka)

 

Sumber: Jawa Pos Radar Bromo, 22 November 2019

Leave a Comment

Your email address will not be published.